Mental Juventus dan AC Milan diuji

Mental Juventus dan AC Milan diuji

Mental Juventus dan AC Milan diujiSetelah hampir dua pekan menjalani jeda internasional bersama tim nasional negara masing-masing untuk laga-laga uji coba, akhir pekan ini seluruh liga di Eropa kembali dimainkan. Namun begitu, tantangan berat sudah menanti sejumlah pemain bintang karena paling tidak ada tiga pertandingan besar yang sudah menanti pada Sabtu dan Minggu (31 Maret dan 1 April) malam.

Di Italia, Seri A akan menyuguhkan laga panas saat Juventus FC menjamu AC Milan di Stadion Allianz, Sabtu (31/3) malam. Sejak Milan terakhir menjuarai Seri A pada 2010/11, tidak ada lagi tim yang mampu menandingi Juve hingga mereka merebut enam scudetti beruntun sampai musim lalu. Tim-tim seperti FC Internazionale, AS Roma, SSC Napoli, hingga Milan sendiri, seolah hanya memberi gangguan kecil bagi La Vecchia Signora dalam perburuan scudetto.

Kini, menjelang laga pekan ke-30 Seri A, Juve masih memimpin klasemen dengan unggul dua poin atas Napoli yang berada di peringkat kedua. Napoli tentu berharap I Rossoneri mampu memberi kejutan di kandang Juve. Namun, merebut tiga poin di kandang Juventus tentu bukan pekerjaan mudah bagi Milan.

I Rossoneri memang impresif dalam enam laga terakhir Seri A, sekali seri dan lima kali menang, termasuk keberhasilan merebut tiga poin di kandang AS Roma, peringkat ketiga! Kendati begitu, di bawah pelatih Gennaro “Rino” Gattuso, Milan masih mencari formula terbaik yang mampu membuat performa mereka konsisten. Milan yang kini ada di peringkat keenam atau batas akhir zona kompetisi Eropa musim depan, tentu berharap laga melawan Juve bisa membuktikan mereka semakin stabil. Yang terpenting, laga di kandang Juve harus dipastikan tidak mengganggu target mereka turun di kompetisi Eropa musim depan.

Di sisi lain, Juve yang kemungkinan belum bisa diperkuat sang kapten, Giorgio Chiellini (cedera), harus mampu merebut tiga poin dari Milan. Banyaknya pemain yang tidak bisa dimainkan atau kurang fit karena imbas jeda internasional – Sami Khedira juga cedera saat membela Jerman – membuat pelatih Massimiliano Allegri harus memutar otak terkait komposisi terbaik.

Bagi Juve, laga melawan tim sekelas Milan ini bisa dibilang salah satu ujian mentalitas juara mereka. Juve wajib menang karena Napoli hampir pasti mampu mengantongi tiga poin karena hanya akan menghadapi US Sassuolo Calcio pada hari yang sama. Selain ditekan Napoli, tiga hari setelah melawan Milan, Juve juga harus menghadapi Real Madrid di leg pertama perempat final Liga Champions.

Di Jerman, pada hari yang sama dengan laga Juve versus Milan, Der Klassiker akan terjadi. Dua raksasa Bundesliga, FC Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund, akan saling berhadapan.

Bicara mentalitas juara, Muenchen mungkin agak sama dengan Juventus. Bedanya, bila Juve terpaut tipis dari rival terdekat, Sabtu malam nanti, Muenchen bisa memastikan gelar Bundesliga keenam beruntun (ke-28 total) bila mampu memenangi laga Der Klassiker. Namun dengan catatan, pada hari yang sama, rival terdekat Muenchen yang berselisih 17 poin, FC Schalke 04, gagal merebut poin penuh (seri atau kalah) dari SC Freiburg.

Seperti Juventus, Muenchen juga harus menghadapi laga pertama delapan besar Liga Champions, tiga hari setelah pertandingan besar di kompetisi domestik. Lawan yang akan dihadapi Muenchen pada Selasa (3/4) malam nanti pun juga klub asal Spanyol seperti Madrid, Sevilla FC. Kendati begitu, melihat statistik di liga domestik maupun Eropa, Muenchen diprediksi tidak akan kesulitan untuk memenangi dua laga krusial tersebut.

Dari kompetisi paling ketat di dunia, Liga Primer, Minggu (1/4) malam juga akan menyuguhkan Derby London. Juara bertahan yang sedang terpuruk, Chelsea FC, akan menjamu Tottenham Hotspur FC. Menjelang delapan pertandingan terakhir, kedua klub sama-sama berusaha menembus zona Liga Champions (empat besar Liga Primer) untuk musim depan.

Pelatih Chelsea Antonio Conte mengakui, kans timnya yang kini ada di peringkat kelima untuk menembus zona Liga Champions, akan kian kecil bila sampai kalah dari Spurs. Saat ini, Spurs ada di peringkat keempat dan unggul hanya dua poin atas The Blues.

Bila gagal mengantar Chelsea minimal ke kualifikasi Liga Champions musim depan (peringkat keempat Liga Primer), Conte hampir pasti dipecat. Apalagi, nama-nama seperti Luis Enrique dan Thomas Tuchel kian santer disebut.

Nasib pelatih Spurs Mauricio Pochettino mungkin sedikit lebih baik. Membawa Spurs ke Liga Champions mungkin bisa membuat manajemen Tottenham menyodorkan kontrak baru. Tetapi bila gagal dan didepak, klub sekelas Paris Saint Germain (PSG) dikabarkan sudah mulai mendekati pelatih asal Argentina itu.

%d bloggers like this: