Asia Patut Ikut Merasakan Sukacita Son Heung-Min

Asia Patut Ikut Merasakan Sukacita Son Heung-Min

Asia Patut Ikut Merasakan Sukacita Son Heung-MinMedali emas Asian Games menjadi garansi kelanjutan karier sang bintang Spurs yang membawa kebanggan sepakbola Asia di Eropa.
Sukacita, lega dan bangga, itulah gambaran perasaan hati Son Heung-min saat ini setelah berhasil membawa Korea Selatan meraih medali emas Asian Games 2018.

Jika saja, sekali lagi ini hanya sebuah pengandaian, Son gagal menjadi yang terbaik bersama Taegeuk Warriors dalam turnamen yang digelar di Indonesia maka tak akan ada senyum yang menghiasi raut wajahnya.

Namun memang benar bahwa perjuangan keras tak akan mengkhianati hasil. Datang dengan target meraih medali emas, sang pemain berusia 26 tahun sukses mewujudkannya dan pulang dengan kabar mengesankan.

Medali emas Asian Games menjadi prestasi tertinggi Son di kancah internasional, setelah sebelumnya menutup Piala Asia 2015 bersama Korea Selatan sebagai runner-up.

Sejatinya bukan torehannya bersama tim yang menjadi sorotan utama, melainkan kelanjutan nasibnya sebagai pesepakbola profesional bakal dipertaruhkan apabila gagal menjadi kampiun Asian Games.

Tak dimungkiri bahwa Son datang ke Indonesia demi ‘menyelamatkan’ kariernya. Sebelum terbang ke Jakarta pada pertengahan Agustus lalu, Son berada di bawah bayang-bayang harus melakoni wajib militer (wamil).

Aturan yang berlaku di Korea Selatan, setiap pria dewasa diharuskan mengikuti wamil sedikitnya selama 21 bulan dan regulasi tersebut bisa ditunda hingga usia 28 tahun. Itu berarti hanya berjarak dua tahun dari usia Son saat ini.

Jadi, luapan kegembiraan yang ditunjukkan Sonny — panggilan akrab Son — selepas melewati drama 120 menit yang berakhir kemenangan 2-1 atas Jepang di Stadion Pakansari tidaklah berlebihan. Memang Asian Games bukanlah turnamen yang mentereng seperti lainnya, tapi punya kesan mendalam bagi Son.

Sudah berulang kali Son menitikkan air mata karena gagal ‘menghindar’ dari wamil secara dini dan harus berpacu dengan usia sebelum batas akhir penundaan. Itu terjadi karena Son pernah menolak kesempatan membela Korea Selatan U-23 di Olimpiade 2012.

“Di Korea [Selatan], sebuah penampilan di Olimpiade punya arti spesial, tapi saya ingin memiliki perkembangan bagus di Hamburg. Yang terpenting adalah menuangkan seluruh waktu saya untuk latihan tim,” ujar Son yang saat itu baru meniti karier di Bundesliga Jerman.

Namun ucapannya kala itu berbuah penyesalan karena kala itu Korea Selatan meraih medali perunggu — tak harus emas, karena tingkat kesulitan Olimpiade lebih tinggi dari Asian Games — dan juga pada Asian Games 2014 ketika Korea Selatan menyabet medali emas, hanya saja keadaannya ketika itu berbalik lantaran klub anyar Son, Bayer Leverkusen enggan melepasnya.

Kesempatan lain ada pada Piala Dunia 2014 dan 2018, alih-alih mengikuti jejak Park Ji-sung dan Lee Young-pyo yang melaju hingga semi-final edisi 2002, Son dan Korea Selatan gagal melaju dari fase grup yang berarti bukan merupakan pencapaian spesial untuk lolos dari wamil. Pun demikian dengan Piala Asia 2015, hanya sekadar menjadi runner-up.

Masyarakat sepakbola Asia selayaknya patut senang dengan pencapaian Son. Suka atau tidak suka, bermain di kompetisi nomor satu dunia, Liga Primer Inggris bersama Tottenham Hotspur menjadikan Son sebagai pesepakbola top Asia. Di pundak Son ada kebanggan Asia dan semoga akan terus menjadi sumber inspirasi bagi pemain Asia lainnya untuk mengejar mimpi hingga Eropa.

%d bloggers like this: